Sinopsis Cinderella's Sister Episode 10

Mobil para tamu sudah berdatangan.

Eun jo masih berkutat di ruang kerja nya. Di telv Eun Jo bicara mengenai bisnisnya. Setelah menutup telv, Eun Jo kelihatan bingung ingin melakukan apa, tangan nya bergetar. Jung Woo melihat Eun Jo dengan pandangan sedih. "Nuna,, apa yang kau lakukan disini?" tanya Jung Woo


"Ahh,, bisakah kau panggilkan Hyo Sun? Ada yang ingin aku bicarakan dengan nya mengenai perwakilannya ke Jepang waktu itu. Anak salah satu pelanggan kita yang di sana sangat menyukai Hyo Sun. Mereka mengundang untuk datang ke rumahnya. Aku ingin tau, apa Hyo Sun masih berhubungan dengan mereka?" kata Eun Jo. "Ahh. Lupakan. Kau tak perlu memanggilnya" lanjutnya ketika menyadari kebodohannya. Eun Jo kembali memperhatikan hp nya.
"Kau tidak bisa melakukan ini, ayo pergi" ajak Jung Woo
Eun Jo mendongak menatap Jung Woo.


Para kerabat memberikan penghormatan untuk Dae Sung dan juga pada Jun Soo. Jun Soo pun membalasnya. "Jun Soo,, bagaimana bisa saya mengucapkan ini pada mu begitu cepat" katanya. Kang Sook masih terisak menangis. Datang lah bibi Dae Sung (yg gga suka ama KS & EJ) dan langsung menangis didepan foto Dae Sung. "Aigooo,, sudah ku katakan pada mu untuk mencari istri yg baik" kata bibi. Kang Sook langsung tambah histeris. Dia memeluk bibi hingga bibi cukup kewalahan. Jun Soo terlihat bingung.



Hyo Sun pun masih tidak beda jauh dengan Eun Jo, mereka tidak percaya Dae Sung sudah pergi. Hyo Sun minum arak sendirian di kamarnya. Ki Hoon melihatnya dengan pandangan sedih dan rasa bersalah.
"Hyo Sun" panggil Ki Hoon
"Oppa.. Aku dalam masalah. Tidak peduli berapa banyak alkohol yang aku minum, aku tetap tidak mabuk. Tidak peduli seberapa banyak aku memeprcayai ini, jadi aku coba untuk minum agar membantuku memepercayai ini, aku terus minum hingga 2 bak, tapi aku belum bisa mempercayai nya" kata Hyo Sun. Hyo Sun ingin meneguk arak nya lagi tapi Ki Hoon menahan tangan nya.


"Hentikan." kata Hyo Sun
Ki Hoon masih menahan tangan Hyo Sun
"Hentikan!!" bentak Hyo Sun
"Hyo Sun.. saya bilang berenti" kata Ki Hoon
"Kamu tidak membiarkanku bersandar dibahumu, kau bahkan mengambil minumanku.. Aku mau kau... untuk menyingkir. Menyingkirlah!!. Aku mau kau menyingkir, Dan juga Eun Jo" ujar Hyo Sun. Hyo Sun ingin bangkit, tapi terjatuh. Ki Hoon memegangnya.


"Export.. Aku sudah mengatakannya agar tidak melakukannya, tapi Eun Jo berkeras. Kalau bukan karna Eun Jo, ayah tidak akan melakukannya. Ayah melakukan semua yang Eun Jo bilang. Walaupun Eun Jo mengatakan hal-hal yang bodoh, dia mempercayainya. Kalau bukan karna Eun Jo, semua tidak akan berakhir seperti ini" kata Hyo Sun penuh amarah.
"Bukan Eun Jo,, itu aku.. aku yang melakukannya" kata Ki Hoon dalam hati. Hyo Sun mau bangkit lagi, tapi blm bisa.


"Dia perempuan jahat. aku akan membunuhnya. Aku tidak akan membiarkan ini berlalu" kata Hyo Sun penuh dendam.
Hyo Sun ingin bangkit (again?), tapi Ki Hoon langsung memeluknya.
"Paman.. Ayo kita membiarkanya pergi. Untuk sekarang, mari kita fokus untuk melepaskannya. Hyo Sun..." kata Ki Hoon. Hyo Sun tambah sedih mendengarnya.
"Aku tidak bisa melakukannya, oppa.. Kemana? Bagaimana bisa aku melepaskan ayahku? Walaupun aku memakai pakaian seperti ini, aku tetap tidak bisa mempercayainya. Lalu bagaimana bisa aku melepaskannya, oppa??" kata Hyo Sun. Hyo Sun dan Ki Hoon menangis pilu.


Eun Jo dan Jung Woo sudah di depan gerbang, begitu melihat para tamu berpakaian hitam, Eun Jo termenung dan balik badan ingin pergi, tapi Jung Woo tidak membiarkanya pergi.
"Nuna.." panggil Jung Woo
"Aku punya banyak urusan. Aku harus pergi ke pabrik. Aku juga sudah tidak ingat kapan terakhir kali aku ke lab" kilah Eun Jo.
"Sadarlah" kata Jung Woo penuh pengertian


"Lepaskan. Aku harus ke pabrik" bantah Eun Jo.
"Aku bilang sadarlah. Bangun dan kerjakan apa yang harus kau kerjakan. Beri salam pada tamu dan diskusi kan persoalan penguburan pada tetua. Banyak yang harus dikerjakan. Bibi tidak berhenti menangis dan aku tidak dapat menemukan Hyo Sun. Tak seorangpun yang bisa berpikir jernih sekarang. Nunna,, Daesung Cham Doga, Pemakaman presiden Dae Sung, sedang dalam kekacauan. Apakah kamu akan berdiam diri saja??" bujuk Jung Woo
"Daesung Cham Doga,, Presiden Goo Dae Sung, Pemakaman.." kata Eun Jo
"Benar" kata Jung Woo.


Eun Jo melihat lampion dekat gerbang dan memberanikan diri masuk. "Tegakkan kepala mu sekarang, ok?" kata Jung Woo menguatkan. Eun Jo masih terlihat gugup, Jung Woo merapikan rambut Eun Jo. Eun Jo menatap Jung Woo kemudian berjalan masuk. Dengan percaya diri, Eun Jo berjalan masuk.


Ki Hoon datang ke kantor keluarganya. Ki Hoon langsung menuju ruangan Ki Jung. Di ruangnan, Ki Jung sedang bicara di telv dengan relasi nya, seorang dr jepang, miura nama nya. Ki Jung tidak menyadari Ki Hoon telah masuk. "Kau sangat terampil, Hyung Ki Jung" kata Ki Hoon. Ki Jung yang tertawa langsung berhenti, dan mengatakan akan menelv kembali.


"Kau datang. Kau datang lebih cepat dari yang ku prediksikan. Duduklah" kata Ki Jung. Ki Hoon tidak menghiraukan.
"Itu.. bukan niatku.. Biarpun tak ada 1 orang pun yang akan mempercayai kata-kataku. Renacanaku adalah mencegahmu untuk memiliki Daesung Cham Doga.. Bukan mencuri untuk diriku sendiri. Setelah aku memilikinya dari mu, aku akan mengembalikanya. Itulah rencana ku, tapi karna aku.. Kau tau apa yang sudah kau lakukan?! Apa kau tau yang sudah kau lakukan padaku, Hyung?!" kata Ki Hoon penuh emosi


"Aku memanggilmu kesini, jadi kita bisa bicarakan baik-baik" kata Ki Jung tenang
"Jangan kau lihat lagi, bahkan jangan berpikir untuk melakukan apapun lagi!!. Aku akan menghentikanmu" ancam Ki Hoon
"Apa kau mau melanjutkan pembicaraan ini tanpa aku melihatmu?! Duduk." kata Ki Jung
"Mengapa kau.. melakukan itu pada ibuku? Ketika ibu ku datang memohon, untuk melihatku sekali saja.. Kenapa kau membuatnya berlari saat dia tidak bisa melakukannya?" tanya Ki Hoon tajam


"Siapa yang mengatakannya padamu? Ayah yang mengatakannya?" tanya Ki Jung terkejut
"Apa alasan mu melakukan itu?! Mengapa kau bertindak terlalu jauh?! Aku bahkan menempatkan diriku di posisimu. Karena ibuku, ibumu sakit. Kalau aku jadi dirimu, aku pikir aku pun akan membenci ibuku juga. Karna ibu pun memiliki ku, mungkin kau tambah tidak menyukainya. Aku yakin kau berdua sakit, sama seperti ku. Aku sudah melakukan banyak.." kata Ki Hoon.


"Apa kau ingin berbagi pengalaman yang tidak menyenangkan?" kata Ki Jung menyelak
"Lebih baik kau berhenti melakukannya. Kau tidak bisa melakukannya pada orang lain" kata Ki Hoon
"Dia berpikir aku menyembunyikanmu, lalu apa yang harus aku lakukan?! Aku hanya berlari karna aku sakit karnanya. Tapi ibumu terus mengikuti ku sampai akhir. Aku tidak mengatakannya untuk berlari!!" kata Ki Jung mulai emosi


"Kau tau akan berbahaya jika dia berlari, tapi kau bahkan tidak berhenti!!.  Aku tidak mau kau memiliki apa yang kau inginkan, aku akan memilikinya terlebih dahulu. Dan aku telah membuat orang yang peduli padaku meninggal. Aku tidak bisa memaafkan diriku dan aku juga tidak akan memafkanmu. Aku tidak bisa kembali ke jalanku karna mu. Daesung Cham Doga tidak akan pernah mati, bahkan saat kau berharap kau akan memilikinya sekarang, meskipun seberapa banyak kau ingin menjadi nomor satu dalam perusahaan anggur.  Aku tidak akan membiarkannya. Menyerahlah. Jangan pernah berpikir mengenai Daesung Cham Doga. Jika kau melakukannya, aku tidak akan diam saja" ancam Ki Hoon.
"Apa yang akan kau lakukan?" tantang Ki Jung
"Aku akan menahanmu dan kita akan mati bersama" jawab Ki Hoon


Kang Sook duduk termenung di kamarnya dan tiba-tiba melihat berkas di laci lemarinya. Kang Sook kecewa melihatnya. Kang Sook berbaring pusing. "Ibu.." panggil Jun Soo. Kang Sook menyuruhnya keluar dan bermain. Kang Sook juga mengatakan agar Jun Soo makan snack terlebih dahulu sebelum bermain. Sepertinya Kang Sook lebih sedih karna masalah materi bukan kematian Dae Sung.


Sementara itu Eun Jo bertemu dengan para tetua.

"Aku minta maaf karna tidak mendatangi kalian satu per satu dan mengumpulkan kalian disini. Banyak yang harus aku lakukan setelah pemakaman dan aku hanya memiliki sedikit waktu. Pertama-tama, mengenai masalah pembeli dari jepang, karna upaya Hyo Sun, kami bisa menyelesaikan setengah pengiriman kami pada mereka dan setengahnya lagi akan kembali ke Daesung Cham Doga" kata Eun Jo tenang
"Apa maksud mu di kembalikan ke Daesung Cham Doga?" tanya salah satu tetua.
"Sebagiannya, kami membuat Vinegar, dan setengahnya lagi aku meminumnya sendiri."jawab Eun Jo


"Meskipun aku berjanji untuk melunasi hutang kami secepatnya, saya sangat menyesal, tidak mungkin kami membayar hutang kami dengan cepat. Namun karna akar Daesung Cham Doga kuat, saya yakin kita akan mendapatkan kejayaan kita kembali. Dan karna kalian juga percaya dan yakin karna kalian memberikan hampir seluruh yang kalian simpan. Jika kalian bisa menunggu lebih lama lagi, saya dan Hyo Sun akan bekerja sama dan membayar semua hutang kami." kata Eun Jo


"Dan jika kami mengatakan kami tidak bisa menunggu. Apa yang akan kau lakukan?" tanya salah satu tetua
"Meskipun saya ingin menunggu lebih lama selama yang kau perlukan,, Jika Dae Sung yang mengatakan ini, Aku bersedia menunggu dua atau tiga tahun. Tapi bagaimana bisa kami percaya pada gadis muda sepertimu?" lanjut tetua.
"Aku butuh uang karna sesuatu yang penting" kata salah satu tetua yang lain. Mereka ribut sendiri mengenai hutangnya. Tiba-tiba pintu terbuka dan Jun Soo melihat Eun Jo, Eun Jo balas melihatnya dengan dingin. Jun Soo langsung menutup pintu.


Tetua yang lain menenangkan dan bertanya apa rencana Eun Jo.
"Saya akan memberikan kalian saham perusahaan Daesung Cham Doga. Para tetua akan menjadi pemilik Daesung Cham Doga." jawab Eun Jo. Para tetua sedikit terkejut mendengarnya. "Jika para tetua bersedia untuk mengawasi jalan nya Daesung Cham Doga bersama-sama, saya percaya mendiang.." kata Eun Jo sambil menahan air matanya. "Mendiang presiden Goo Dae Sung pun akan senang" lanjut Eun Jo. Para tetua memikirkan kembali perkataan Eun Jo.




Jun Soo ke kamar Hyo Sun. "Nuna..Nunaa.." panggi Jun Soo sambil menggoyangkan tubuh Hyo Sun. Hyo Sun tanya ada apa. Jun Soo mengajak nya bermain. Hyo Sun menolak. Jun Soo masih mengajaknya bermain. Hyo Sun bilang main saja dengan kakak tertua saja.
"Kakak tertua adalah orang yang tidak pernah bermain dengan ku." kata Jun Soo. Hyo Sun bangun mendengar perkataan adiknya.
"Kakak kedua, kakak yang terkadang main dengan ku.. Ibu kadang tidak bermain dengan ku. Appa, orang sering bermain dengan ku. Kenapa ayah tidak pulang?  hehh,, kenapa ayah tidak ada?" tanya Jun Soo mendesak. Hyo Sun tidak bisa menjawabnya, dia pun ingat kembali dan rindu pada ayahnya. Hyo Sun memeluk Jun Soo.


Eun Jo duduk sendiri di teras paviliun. Saat Eun Jo akan pergi jalan, dia melihat Hyo Sun dan Jun Soo. Mereka saling berpandang. Jun Soo, Hyo Sun dan Eun Jo pergi ke danau. Jun Soo dan Hyo Sun melempari batu ke danau, sedangkan Eun Jo hanya duduk diam. "Nunna,, disana lebih banyak batu, mmm.. aku akan kesana sebentar" kata Jun Soo. Hyo Sun mengiyakan saja.


Hyo Sun duduk di samping Eun Jo.
"Ada yang ingin aku tau.. aku pikir kau benar-benar menyayangi ayah.. tapi.. kau tidak menangis.. bahkan nenek dan para pekerja pabrik tidak seorang pun yang tidak menangis.. Kenapa kau begitu??" kata Hyo Sun dengan perlahan.
"Apa kau benar- benar ingin tau?" tanya Eun Jo
"Kau.. apakah kau benar-benar tulus pada ayah?" tanya Hyo Sun


"Apa menurut mu, aku harus menjawabnya?" tantang Eun Jo
"Katakan padaku,, apakah kau pernah tulus pada ayah?" teriak Hyo Sun. Eun Jo langsung melihat Hyo Sun dengan dingin.
"Apa?? Kenapa kau melihatku seperti itu?!" kata Hyo Sun
"Apa itu ketulusan?" tanya Eun Jo
"Apa?" tanya Hyo Sun heran
"Ketulusan.. apa arti ketulusan?" tanya Eun Jo sekali lagi


"Ayah meninggal.. apa itu tidak ada artinya bagimu? Bisa kah kau mengatakan dengan jujur?? Jika kau tidak pernah ada disini, ini tidak akan pernah terjadi" kata  Hyo Sun menahan tangisnya.
"Jadi.. kau mau apa?? sekarang bila kupikir, kau mengatakan bahwa ayahmu meninggal karna aku. Aku harus bagaimana?" kata Eun Jo


"Kamu harus bagaimana? Jika aku minta kau melakukan sesuatu,, bisakah kau melakukannya? Bisakah kau melakukan sesuatu?? kalau begitu,, kembalikan ayahku!! Kembalikan ayah!! Aku rindu padanya setengah mati,, jadi kembalikan ayah!! " tantang Hyo Sun
Eun Jo hanya bisa diam dan menahan air matanya.


"Bagaimana ini bisa terjadi.. memuakkan.. ini tidak masuk akal.." kata Hyo Sun menunduk lemah,, Hyo Sun berlutut,, menutupi wajahnya di lutut Eun Jo.
"Aku takut,, unnie... Aku sangat takut.. Aku merasa seperti berdiri sendirian diluar, tanpa pakaian. Aku kedinginan dan ketakutan. Unnie..." kata Hyo Sun yang terus menangis.
Perlahan tangan Eun Jo mengarah ke kepala Hyo Sun. Dengan lembut Eun Jo mengusap kepala Hyo Sun.


"Jangan menangis,, Hyo Sun.." kata Eun Jo. Eun Jo menenangkan Hyo Sun dengan mengusap bahu Hyo Sun, sama seperti yang dilakukan Dae Sung padanya. "Jangan menangis,, Hyo Sun. Jangan menangis.." kata Eun Jo sambil memeluk Hyo Sun.


Tangan Eun Jo masih menggantung di udara. Ternyata itu hanya khayalannya. Hyo Sun masih menangis di lutut Eun Jo, Eun Jo yang tersadar bingung harus berbuat apa pada Hyo Sun. Dengan kasar Eun Jo mendorong tubuh Hyo Sun.


"Berapa lama kau akan menangis seperti ini? Para tetua tidak peduli pada masalah kita, mereka minta kita melunasi hutang sekarang juga. Kita harus membayar uang mereka. Dan sekarang semua ragi yang ayahmu buat sudah tidak ada lagi, kita harus menemukan cara untuk mendapatkan lebih banyak lagi. Kita bahkan belum bisa mempercayai diri sendiri untuk bisa membuat arak yang rasanya sama dengan ayahmu. Masih banyak hal yang harus dilakukan. Tapi, bagaimana bisa kau hanya berdiam diri dan menangis dari hari ke hari??" kata Eun Jo berusaha menyadarkan Hyo Sun. Jun Soo kembali, dia melihat Hyo Sun menangis.



"Mengapa tak sekalipun.. Tak bisakah kau menghiburku? Sekarang, aku sanagt ketakutan dan kesepian. Aku berharap kau bisa berlaku baik sekali ini saja padaku. Dengan begitu aku akan lebih berani." kata Hyo Sun memelas. "Aku muak dan lelah dengan sikap kenak-kanakkanmu!! Sudah ku bilang berhenti!!" bentak Eun Jo. Jun Soo memandangi Eun Jo dengan kesal. Eun Jo pergi dengan menahan emosinya. Jun Soo mengejar Eun Jo dan melemparkan batu. "Kau nenek sihir yang jahat.. aku akan bilang pada ayah..!!" kata Jun Soo. Eun Jo hanya bisa berhenti sejenak dan jalan lagi.



Eun Jo ke pabrik dan melihat para karyawan masih bersedih atas meninggalnya Dae Sung. Eun Jo heran melihat para karyawan hanya duduk berdiam diri dan masih bersedih. Salaha satu ajhussi mengataka mereka tidak ada pesanan sehingga tidak ada kerjaan. Eun Jo mengatakan mereka akan membeli bahan-bahan dan minta mereka bersiap-siap. Salah satu ahjussi lain bertanya siapa yang akan melakukan ritual perayaan.


"Hanya karna tidak ada yang bertanggung jawab atas perayaan, maka anda mengatakan anda tidak bisa membuat ragi? Aku bilang apa yang kalian lakukan? Kenapa semua orang berlaku seperti ini? Bahkan ketika perusahaan sedang tertatih-tatih di tepi jurang, kami memberi kalian semua gaji pada tiap bulannya. Kalian mengatakan padaku tidak akan mau bekerja setelah kalian mendapatkan semua uangnya? Jika kalian tidak bekerja, pergilah!!" kata Eun Jo makin emosi.


Tiba-tiba sebuah tangan memegang bahunya, Eun Jo merasa seperti tangan Dae Sung yang biasa menenangkannya. Eun Jo langsung terdiam, dengan sekejab Eun Jo mampu menahan emosinya. Eun Jo merasa Dae Sung masih bersama nya, tangan yang yang merangkul nya dengan hangat (waktu eun jo mau kabur pertama kali), menyayangi nya dengan tulus (wktu dae sung tau kang sook hanya memanfaatkannya), dan bersabar dengan sifat tempramennya (wktu di kator polisi). Semua kejadian itu melayang-layang melintas dalam memory nya. Eun Jo balik badan dan melihat Ki Hoon yang ada dibelakangnya.



Ki Hoon bicara dengan Eun Jo di ruang kerjanya. Ki Hoon mengatakan Eun Jo tidak perlu terlalu keras mendorong para pekerja, para pekerja masih sangat kehilangan Dae Sung. Bukan hanya para pekerja tapi seluruh isi disana masih berduka. Ki Hoon juga mengatakan pada Eun Jo untuk belajar pada Hyo Sun, baik dan ramah. Ki Hoon mengatakan kalau Hyo Sun baik karna tidak menyakiti perasaan orang lain sehingga orang lain mendengarkannya.


Ki Hoon memberikan sebuah dokumen. Ki Hoon, "Apa kau masih ingat tentang penjualan mandoo? Ada perusahaan yang tidak jujur. Perusahaan bangrut tapi mereka tidak tau kebenarannya. Kemudian belakangan merea tau bahwa perusahaan itu bersalah. Dan ada beberapa artikel yang mengatakan perusahaan itu tidak melakukan hal yang salah. Mari kita hubungkan antara keadaan kita saat itu dengan yang terjadi saat ittu dan membuat artikelnya. Tolong tulis mengenai itu. Karna aku hanya punya bakat untuk membaca dan memeriksa tapi tidak untuk menulis. Jika kau sudah selesai aku akan melihatnya".

Eun Jo masih terdiam. Eun Jo bangun dari duduk nya dengan membawa dokumen dari Ki Hoon. Tiba-tiba para pekerja masuk. Para pekerja mengatakan mereka tidak akan kembali lagi bekerja mulai besok. Ki Hoon bingung apa yang di katakan Tuan Kim. "Pabrik ini, dan kami tau kami di posis yang lebih rendah, tapi kami masih lebih tua darimu!! Apa sebenarnya yang telah kau pelajari dari president? Bahkan ketika kami melakukan yang salah dan president berteriak pada kami, dia masih menunjukan rasa hormat pada kami. Saya tidak ingin bekerja disini lagi, setela di pelakukan seperti ini pada seseorang yang sebaya putriku. Ingat itu" kata tuan Kim menatap Eun Jo dengan tajam. Setelah itu para pekerja pergi. Ki Hoon mencoba untuk mengejar. Eun Jo hanya diam saja.


Larut malam, Hyo Sun baru kembali ke rumah, di ikuti dengan Jun Soo. "Jun Soo pulang" kata Jun Soo. Kang Sook langsung menghampiri. Hyo Sun, "kami pulang" kata Hyo Sun tersenyum. Tapi Kang Sook hanya memamndangnya dengan dingin. Hyo Sun menyuruh Jun Soo untuk mencuci tangan nya. "Dengan anak yang tidak tahan dingin, kemana kau membawanya? kau tau aku terus mencarinya. Jika kau ingin membawanya pergi, kau harus bicara pada ku dulu kemana kau akan membawanya pergi" kata Kang Sook. Hyo Sun menjawab karna dia kira Kang Sook sedang tidur. Tapi Kang Sook sanagt marah sekali, hingga dia berteriak, "Apa yang akan kau lakukan jika penyakit Jun Soo akan bertambah buruk?!!". Hyo Sun sangat terkejut. Kang Sook langsung membawa Jun Soo masuk.


Kang Sook mencucikan tangan Jun Soo. Hyo Sun masuk ke kamar mandi.  Hyo Sun mengatakan akan mencucikan tangan Jun Soo. Dengan dingin Kang Sook tak menggubrisnya, dan langsung mengelap tangannya dan Jun Soo lalu keluar meninggalkan Hyo Sun. Hyo Sun sangat sedih. Dikamarnya, Hyo Sun menahan air mata nya. Kang Sook berdongeng untuk Jun Soo tapi dalam dongengnya Kang Sook meluapkan kekesalan dan kesedihannya, "Benarkah akan seperti ini? Setelah semuanya, Hei Kau, Budha Jesus, membuat aku menjadi janda kembali? Apa Kau gila? Kau tidak punya akal sehat. Hidupku bernasib buruk. Apa kalian semua taruhan untuk seberapa jauh akau akan jatuh? Kau pikir aku akan menyerah? Aku adalah Song Kang Sook. Jika aku akan jatuh, aku akan membawa Kau bersamaku. Apa Kau pikir aku akan jatuh sendirian? Tidak akan." kata Kang Sook.


Tiba-tiba Hyo Sun sudah ada di pintu. "Ibu,, aku salah. Maafkan aku ibu. Aku tidak tau Jun Soo tidak tahan dingin" kata Hyo Sun sambil memeluk Kang Sok. Dengan cepat Kang Sook menyingkirkan tangan Hyo Sun. "Jangan sentuh aku!! Sebaiknya jangan bergantung padaku. Pelukan mu membuat aku jijik. Apa kau tau itu?". Hyo Sun kaget dan hanya bisa menahan air matanya. Di luar kamar Hyo Sun sangat sedih dan merasa sendirian.


Hyo Sun ke kamar Eun Jo. Eun Jo sibuk dengan laporan yang dia buat. Hyo Sun hanya bisa diam melihatnya. Hyo Sun ke kamar Ki Hoon, ternyata kamar nya pun kosong. Hyo Sun ke pabrik dan melihat Ki Hoon sedang minum bersama para pekerja. Saat sarapan Hyo Sun merasa asing. Eun Jo masih berkutat dengan dokumenya saat di meja makan. Kang Sook memberikan lauk untuk Eun Jo dan menyuruhnya untuk menyelesaikan makan nya dahulu. Kang Sook juga menyuapi Jun Soo. Hyo Sun hanya diam melihatnya. "Ibu.." panggil Hyo Sun dengan lirih. Tapi tidak ada tanggapan dari Kang Sook. Kang Sook, "Makan yang benar Jun Soo.. kau tidak boleh sakit.. ok?". Hyo Sun merasa terasingkan.


Eun Jo sudah menyelesaikan dokumen yang di minta Ki Hoon. Ki Hoon membaca nya sejenak dan mengatakan dokumen nya di buat dengan terburu-buru.  Ki Hoo juga mengatakan artikel yg dibuat Eun Jo sangat menuntut. Ki Hoon menyuruh Eun Jo untuk menulis ulang lagi. Eun Jo tidak terima egitu saja di bilang salah.


Eun Jo minta Ki Hoon untuk menjelaskan baris mana saja yg menunjukan menuntut. Ki Hoon tidak mau menjelaskannya, menurutnya lebih penting dy menemui para pekerja kembali karna usaha nya yang kemarin gagal. Seperti biasa Eun Jo tidak mau menerima nya, Eun Jo mengatakan dy tidak butuh pekerja seperti mereka. Eun Jo bilang dy bisa menemukan pengganti untuk mereka. Ki Hoon heran dengan pemikiran Eun Jo. Ki Hoon mengatakan tidak mudah menemukan orang yang dapat menggantikan para pekerja yang sudah bekerja untuk Daesung Cham Doga selama 20tahun.


Jung Woo berada di sebuah toko. Jung Woo memilih salah satu bros.


Ki Hoon jalan menuju pabrik. Di depan pintu dy melihat mobil da supir seseorang. Ki Hoon langsung berlari masuk. Ternyata Presdir Hong sudah berdiri menunggunya.
"Aku tidak di ijinkan datang ke pemakaman maka aku datang terlambat. Setiap sudut adalah Dae Sung. Aku tidak akan berhenti sampai Daesung Cham Doga menjadi milikku" kata Presdir Hong.
"Ku Mohon pergilah. Ini bukan tempat di mana kau seharusnya berada" kata Ki Hoon
"Bisa kah kau menyediakan anggur untukku?" tanya Presdir Hong.


Ki Hoon dan Presdir Hong berada di kantor Dae Sung. Ki Hoon mendesak Presdir untuk segera mengatakan tujuannya. Presdir Hong meminta uangnya kembali. Ki Hoon terpaku. Presdir Hong menginginkan uang yang di pinjam Ki Hoon untuk membantu Daesung Cham Doga. Presdir Hong juga menyinggung Ki Hoon yang pergi menemui Ki Jung. Presdir Hong tau Ki Hoon ingin melindungi Daesung Cham Doga dr Ki Jung. Presdir Hong merasa ditusuk dr belakang oleh Ki Hoon. Presdir Hong ingin uangnya kembali besok atau Ki Hoon bisa menyerahkan Daesung Cham Doga. Setelah mengatakan itu, Presdir Hong langsung keluar. Ki Hoon mengejar. "Itu mustahil mengembalikannya besok. Beri aku waktu" kata Ki Hoon. "Sebaiknya kau bisa menjaga sikapmu" balas Presdir Hong.


Ki Hoon membicarakan masalah ini pada Eun Jo dan Hyo Sun. Hyo Sun tanya apa yang bisa mereka lakukan agar Daesung Cham Doga tidak jatuh. Ki Hoon mengatakan dy sedang memikirkannya. "Kenapa harus kau? Bagaimana ini bisa menjadi urusan mu?" kata Eun Jo. Hyo Sun dan Ki Hoon kaget. "Kenapa kau selalu begini. Haruskan kau bicara seperti ini?" kata Hyo Sun. Eun Jo tidak menjelaskan apa-apa dan langsung ngeloyor gitu aja.


Eun Jo meminta uang simpanan Kang Sook. Kang Sook terus mengelak tidak ada uang.
"Tidak mungkin kau tidak punya uang. Ayah Hyo Sun bukan tipe orang yang tidak perduli dengann mu. Dan tidak munkin, kau tidak menyentuh dompetnya bu. Kau pikir aku tidak tau? Berapa banyak yang sudah kau simpan?!!" kata Eun Jo
"Kalaupun ada, apa kau pikir aku tidak memikirkan masa depan Jun Soo,, kau dan aku? Aku tidak akan memberikannya begitu saja.!!" kata Kang Sook


Eun Jo berteriak meminta uangnya. Kang Sook mengatakan tidak akan memberikan uangnya karna itu adalah hasil kerja kerasnya. "Apa hak mu menyuruhku menyerahkan uangku? Tidak akan. Aku tidak akan memberikannya" kata Kang Sook. Kang Sook langsung pergi keluar. Eun Jo menarik tangan Kang Sook, memaksa untuk memberikan uangnya. Dengan kasar Kang Sook menghempaskan tangan Eun Jo. Eun Jo langsung jatuh terhempas.


"Jangan menggangguku lagi.!!" kata Kang Sook. Kang Sook keluar kamar, ternyata Hyo Sun berdiri di depan kamar. Kang Sook terkejut. Hyo Sun menatap nya tak percaya. Kang Sook langsung pergi begitu saja. Eun Jo ingin berdiri, Hyo Sun sudah masuk. "Jadi.. Ibu seperti ini.. Aku salah dengarkan? Apa yang aku dengar pasti salah" kata Hyo Sun tak percaya. Eun Jo hanya bisa membuang muka, seolah tidak peduli.



Di dapur, Kang Sook menyuruh 2 pembantunya untuk segera berkemas. 2 Ahjumma itu kaget dan langsung minta maaf jika ada salah. Tapi Kang Sook tidak mau mendengarnya dan langsung menyuruh mereka untuk berkemas. Kang Sook juga mengatakan akan membayar gaji mereka. 2 Ahjumma itu siap untuk meninggalkan rumah Dae Sung tapi mereka berbalik kembali, tak rela meninggalkan rumah Dae Sung. Hyo Sun datang sambil berteriak. Ajhjumma menasihati Hyo Sun agar hidup dengan baik. Hyo Sun bingung mengapa mereka membawa tas mereka. "Apa yang harus aku lakukan jika kau rindu pada kalian?" kata Hyo Sun. Ahjumma hanya bisa menangis. Eun Jo melihatnya dari dalam.


Kang Sook sedang membaca majalah. Hyo Sun berusaha bicara pada Kang Sook. Hyo Sun mengatakan nenek Go Nim bukan pekerja biasa. Mereka sudah seperti keluarga. Bahkan nenek Go Nim sudah seperti ibunya. Hyo Sun menangis, memohon agar Kang Sook tidak menyuruh mereka pergi. Dengan enteng Kang Sook menyuruh Hyo Sun untuk mengikuti nenek Go Nim saja jika dy sudah seperti ibu bagi Hyo Sun. Hyo Sun mendongak tak percaya. Hyo Sun masih menangis.


Kang Sook menyuruhnya untuk tidak merengek lagi padanya. "Aku tidak mengerti mengapa ibu tiba-tiba bersikap seperti ini pada ku" kata Hyo Sun. "Sudahlah. Kau sudah cukup lama tumbuh sebagai seorang putri. Sudah waktunya kau berhenti bersikap seperti itu" kata Kang Sook. "Ibuu..." rengek Hyo Sun. "Jangan merengek di depanku dan KELUAR" bentak Kang Sook. Hyo Sun sangat kaget. Hyo Sun berjalan bertopang pada dinding, menangis dan memukul pelan dadanya yang terasa sesak.


Hyo Sun masih menangis di kamarnya. Eun Jo masuk. Eun Jo mengatakan 2 ahjumma itu tidak akan pergi kemana-mana, mereka ada di pabrik. Tidak ada reaksi dr Hyo Sun. Eun Jo mau keluar tapi terhenti kembali.
"Ibu.. Mengapa ibi tiba-tiba bersikap seperti ini pada ku? Ibu.. kenapa ibu tiba-tiba berubah menjadi orang yang berbeda?" tanya Hyo Sun
"Dia tidak tiba-tiba berubah. Ibu ku memang seperti ini. Apa kau tidak tau? Kau.. kau bukanlah putri lagi di rumah ini. Kalau kau melakukan kesalahan, kau akan di tendang keluar. Ibuku.. adalah tipe orang yang seperti itu" jawab Eun Jo
"Menendangku keluar?" kata Hyo Sun terpengarah.


"Sadarlah Goo Hyo Sun. Tolong, aku minta bantuanmu. Perhatikanlah dan bersikaplah dengan cerdik. Jangan merengek seperti orang gila. Dan carilah sesuatu yang bisa dikerjakan. Dirumah ini tidak akan ada lagi yang ada dipihakmu. Mengerti?!!" jelas Eun Jo. Setelah mengatakan itu Eun Jo keluar. Hyo Sun shock. Tapi Eun Jo kembali masuk dan menyuruh Hyo Sun berdri dengan berteriak.


Dengan bertolak pinggang, Kang Sook menyuruh paman Hyo Sun angkat kaki. Paman bingung mengapa. "Orang yang menyebabkan ayah Jun Soo meninggal adalah kau, paman Hyo Sun. Dalam seminggu kau menghancurkan perusahaan. Setelah membuat perkara kau datang kembali dengan gratisan. Dengan apa dan tujuan apa kau tinggal kembali di sini. Aku berharap tidak melihat wajahmu lagi besok. Mengerti?" kata Kang Sook. Paman Hyo Sun shock.


Jung Woo sudah menunggu Eun Jo di luar. Begitu Eun Jo lewat, Jung Woo sudah tersenyum senang. Tapi Eun Jo hanya berlalu pergi saja. Jung Woo terlihat kecewa, tapi Jung Woo kembali melihat hadiahnya dan tersenyum kembali.

Ki Hoon di ruang kerja nya menelv Presdir Hong. Ki Hoon mengatakan sebuah ide yang bagus untuk mendapatkan uang untuk mengganti uang Presdir Hong yang ia pinjam. Ki Hoon mengatakan akan menjual saham nya di Hong Ju Ga. Ki Hoon tanya apa pendapat Presdir Hong. "Apa?? Kau gila." kata Presdir Hong kemudian menutup telv nya. Tak di sangka, Jung Woo mendengar pembicaraan Ki Hoon. Jung Woo tanya  apa hubungannya dengan Hong Ju Ga. Jung Woo mengatakan Hong  Ju Ga adalah perusahaan anggur terbaik. Ki Hoon mengelak kalau Jung Woo salah dengar. Tapi Jung Woo tidak percaya begitu saja. Ki Hoon langsung membentaknya dan keluar ruangan.



Eun Jo membawa Hyo Sun ke ruang penyimpnan arak. Eun Jo menyuruhnya untuk minum arak. Hyo Sun bingung apa makasud Eun Jo. Eun Jo menyuruhnya minum dengan cepat. Hyo Sun minum araknya. Dan tanya apa maksud Eun Jo. Eun Jo tanya bagaimana rasanya. Hyo Sun bingung. Eun Jo tanya arak siapa itu. "Apa maksud mu?? Tentu saja arak ayah. Arak siapa lagi ini" kata Hyo Sun.


Eun Jo meyakinkan Hyo Sun, apa dia yakin. "Apa yang kau katakan. Dari kecil aku sudah minum arak buatan ayah, tentu saja aku tau" kata Hyo Sun kesal. Hyo Sun jalan meninggalkan Eun Jo. "Aku yang membuatnya" kata Eun Jo. Hyo Sun berhenti dan berbalik. "Aku yang membuatnya" kata Eun Jo. Eun Jo berbalik dan melihat kembali kendinya. "Aku melakukannya. Aku pikir aku tidak akan bisa membuatnya" kata Eun Jo dengan mata berkaca-kaca.


"Kau.. apa kau yang membuatnya??" tanya Hyo Sun tak percaya. Eun Jo masih terdiam. "Aku bertanya!! Apa kau yang membuatnya,, unnie?" tanya Hyo Sun. Eun Jo berbalik dan dengan tegas Eun Jo mengatakan dia yang telah membuatnya. "Aku melakukannya lagi,,Goo Hyo Sun. Ini akan menjadi harapan Daesung Cham Doga. Tidakkah kau berpikir seperti itu? Apa yang akan kau lakukan? Aku membuat kontribusi yang besar untuk perusahaan. Apa yang akan kau lakukan? Jika kau masih bersikap seperti ini, sepertinya segala nya akan menjadi milik ku, Goo Hyo Sun. Jadi, apa yang akan kau lakukan mengenai hal ini? Ibuku bukan orang asing,, dan aku adalah anaknya. Mungkin aku lebih tinggi darinya. Karena dibanding ibuku, aku jauh lebih pintar. Jangan mau dibodohi, jika kau di bodohi, aku benar-benar tidak akan menolongmu. Aku sudah memperingatkanmu. Okke?" kata Eun Jo. Setelah mengatakan itu, Eun Jo pergi meninngalan Hyo Sun yang terpengarah mendengarnya. (eun jo niat na bae,, tapi cara na bener2 tegas dan tega..)


Eun Jo pergi dengan membawa kendi hasil anggur buatannya. Di luar dia bertemu dengan Jung Woo. Eun Jo minta Jung Woo bicaranya nanti saja. Tapi Jung Woo mengikuti Eun Jo. Eun Jo menyuruhnya untuk jangan mengikutinya. Hyo Sun masih berada di ruang penyimpanan arak. Eun Jo ke pabrik,, tak ada orang. Eun Jo ke kantor,, juga tak ada orang. Eun Jo ke pembuatan arak, disana pun tak ada seorangpun. Eun Jo melewati ruangan Dae Sung. Eun Jo terus berjalan dengan keayikan pikirannya sendiri.


Tujuan terakhirnya adalah ruang kerja Dae Sung. Eun Jo meletakkan kendinya di meja dan mengambil foto Dae Sung dan meletakkannya di samping kendinya. Eun Jo mengambil araknya semangkuk dan meletakkannya di depan foto Dae Sung. Eun Jo berlutut.


"Jika aku bisa kembali ke masa lalu. Aku berpikir waktu mana yang saya tuju. Saya berpikir itu setiap hari. Haruskah saya kembali ke 8 tahun silam? Dan tidak pernah menginjakkan kaki saya ke rumah ini? Haruskah saya menyeret ibuku keluar dari rumah ini? Ataukah pada saat orang itu meninggalkan saya dan saya mengemasi bara-barang saya. Haruskah saya bangun 1 jam lebih awal, ketika hari mulai gelap dari biasanya dan meninggalkan rumah? Kalu bukan itu.. pada hari mendapatkan pesanan yang lebih besar, ketika anda mengatakan anda tidak akan mengambilnya. Daripada bermain-main, haruskah saya dengan sabar mendengarkan anda. Kapankah saya harus kembali agar semua ini tidak terjadi? Dari mana saya harus memulai lagi agar saya tidak membuat kesalahan?" kata Eun Jo penuh sesal. Eun Jo bangun dan mendekatkan mangkuknya pada foto Dae Sung.


"Minumlah. Saya yang membuatnya. Walaupun Hyo Sun bilang bahwa ini sama... Saya... Aaa--.. App--.. Appa.. saya ingin mendapat pujian. Sya benar-benar minta maaf. Tolong maafkan saya.. ayah.. Saya benra-benar minta maaf. Maafkan saya,, ayah.. Appa..!!! Saya bersalah.!!" tangis Eun Jo menyesal.



0 comments:

Post a Comment